Revitalisasi Pasar Tradisional

HARIAN KONTAN. Masuknya raksasa ekonomi pasar dunia seperti Carrefour, Giant, Hypermarket, Diamond, dan seterusnya tentunya berdampak buruk bagi keberadaan pasar tradisional. Pasar tradisional semakin terdesak mundur, sepi pengunjung, pedagang merugi (gulung tikar), dan kondisinya semakin kumuh.
Berdasarkan penelitian AC Nielsen, pada tahun 2005-2006, jumlah pasar tradisional mengalami penurunan sebesar 8,1% karena terdesak oleh pasar modem yang tumbuh hingga 31.4%.

Guna mencegah semakin sedikitnya pasar tradisional di Indonesia, pemerintah melalui Departemen Perdagangan ataupun Kementerian Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah tetap akan melanjutkan program revitalisasi pasar tradisional yang, sudah mulai dirintis sejak awal tahun 2003.

Pada tahun 2008, Departemen Perdagangan telah merevitalisasi 104 pasar dengan dana Rp 167 miliar. Menurut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, selama tahun 2009, pasar tradisionalyang ditangani Departemen Perdagangan mencapai 57 unit dengan nilai Rp 100 miliar. Adapun stimulus untuk pasar tradisional sebanyak 37 unit bernilai Rp 215 miliar.

Lebih lanjut. Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Meneg Koperasi dan UKM) Suryadharma Ali menjelaskan, anggaran stimulus fiskal sesuai dengan daftar isian pelaksaan anggaran (DIPA) tahun 2009 sebesar Rp 100 miliar telah digunakan untuk membangun 91 unit pasar tradisional di 86 kabupaten/kota dan 13 sarana pedagang kaki lima di 13 kabupaten/kota- Proyek ini diharapkan dapat menyerap 37.400 tenaga kerja

Pertanyaan yang muncul kemudian, bagaimana merevitalisasi pasar tradisional di tengah semakin merangseknya pasar-pasar modem?

Membatasi pasar modern

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, revitalisasi pasar tradisional yang dilakukan pemerintah tidak boleh hanya memerhatikan kondisi pasar, volume perdagangan, ketersediaan lahan untuk perbaikan pasar, dan desain rencana perbaikan pasar;melainkan juga perlu membatasi pertumbuhan pasar modem.

Revitalisasi pasar tradisional tanpa membatasi pertumbuhan pasar modem tidak ada gunanya. Ketika program revitalisasi pemerintah hanya dalam bentuk fisik tanpa memperbaiki regulasi dalam menekan jumlah pasar modem, program ini hanya akan semakin mematikan sektor usaha riil masyarakat kecil.

Pembatasan jumlah pasar tradisional sudah berhasil dilakukan oleh Bupati Bantul Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Idham Samawi. Idham Samawi hanya memberi izin kepada 73 pasar modem skala kecil di wilayahnya. Dengan kebijakan ini. pasar tradisional di Bantul dapat bertahan walaupun pendapatannya menurun.

Kedua, Pemerintah daerah juga harus berani menata keberadaan pasar modern. Pendirian pasar modem harus jauh dari keberadaan pasar tradisional.

Ketiga, pemerintah perlu memerhatikan persaingan harga. Persaingan harga perlu dikelola dengan baik agar tidak merugikan pihak lain. Pedagang kecil yang selama ini menggunakan pasar tradisional bisa kehilangan pelanggannya karena mereka memilih berbelanja ke pasar modemdengan harga lebih murah.

Ruh perdagangan bangsa

Pasar tradisional merupakan ruh perdagangan bangsa Indonesia Pasalnya, di pasar tradisional terdapat interaksi antara pedagang dan pembeli, yang tidak dapat ditemui di dalam pasar modern. Tawar-menawar, canda riang yang sesekali diselingi rasa kerjdaksukaan merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia yang semakin asing di tengah semakin banyaknya masyarakat berbelanja di pasar modem.

Maka dari itu. revitalisasi pasar tradisional pada dasarnya bukan hanya persoalan teknis, melainkan bagaimana mengubah cara pandang masyarakat. Masyarakat harus disadarkan bahwa berbelanja di pasar tradisional bukan berarti kuno dan antimodemisme. Berbelanja di pasar tradisional merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri dan menguji kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Pada akhirnya, keberadaan pasar tradisional sudah saatnya di-uri-uri (dilestarikan). Salah satunya adalah dengan mengajak anggota keluarga berkunjung dan berbelanja di pasar tradisional.

Benni Setiawan, Peneliti Lentera Institute

by: Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: