Pasar Tradisional di saat pemilu

Malang benar nasib Pasar Tradisional di Indonesia. Pasar yang identik dengan kekumuhan, becek, kotor, tidak teratur, dan satu lagi, kerap terjadi kebakaran tiba-tiba menjadi tempat favorit siapa saja terutama orang atau partai yang akan ikut pemilu. Entah itu pemilu legislatif atau pemilu presiden.

Semua berlomba-lomba turun ke pasar. Hal yang sama terjadi saat menjelang puasa. Pejabat yang terkait ramai-ramai turun pasar. Entah itu cuma tanya masalah bagaimana jualannya? Ramai apa nggak? Harga-harga bagaimana. Unek-uneknya apa saja. Klise sekali. Dan Setelah tanya ini itu di sana sini, mereka lantas mengobral janji-janji surga.

Benarkah para pedagang pasar tradisional membutuhkan itu semua?

Sejujurnya, jika para pejabat atau pihak-pihak yang turun ke pasar saat kampanye itu bertindak lebih dahulu, tidak perlu turun ke pasar juga para pedagang itu akan pro kepada mereka. Kenapa? Bagaimana mau memilih mereka, kalau saat mereka menjabat saja tidak membuat kebijakan yang pro pasar tradisional.

Pasar tradisional dibiarkan becek dan kumuh supaya bisa di remajakan, yang berarti proyek, dan berarti pula meningkatkan harga kios yang pasti tidak terjangkau oleh para pedagang lama. Siapa penghuninya? Ya.. Para pemodal kuat lagi. Karena otomatis pedagang lama yang tidak sanggup akan menyingkir keluar dan digantikan para pemegang modal.

Peremajaan pasar bukannya kebijakan yang buruk, tetapi berkaca dari pengalaman selama ini peremajaan diawali dengan kebakaran dan berujung pada kenaikan harga kios yang berlipat ganda. Padahal ada cara yang lebih baik dari itu semua. Semisal masalah harga kios, kalau seandainya tidak dapat menghindari kenaikan harga kios, kenapa tidak ada subsidi dari pemerintah? Atau mungkin diadakan kredit murah.

Padahal seandainya pasar tradisional itu kuat, jelas akan memberi keuntungan kepada banyak pihak. Mulai dari konsumen yang bisa menawar harga saat berbelanja, tempat yang nyaman. Dari pihak produsen barang juga menikmati margin keuntungan. Berbeda dengan saat produsen menjual barangnya di pasar moderen yang cenderung ‘high cost’. Dan pemerintah pun saya yakin juga senang karena dengan hidupnya pasar tradisional berarti akan menarik tenaga kerja dari berbagai sektor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: