DEPSOS AJAK TOKOH AGAMA IKUT TANGGULANGI PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Jakarta, 16/7/2009 (Kominfo-Newsroom) � Departemen Sosial mengajak para tokoh agama agar ikut serta berperan aktif memberikan penyuluhan dalam rangka penanggulangan korban penyalahgunaan narkoba, dan sebagai ujung tombak dalam memberikan motivasi pada umatnya.

�Di Indonesia, peredaran gelap dan penyalahgunaan

Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif (Napza) semakin mengerikan, dan prevalensi penyalahguna Napza saat ini sudah mencapai lebih dari 3 juta orang,� kata Sekjen Depsos Chazali Situmorang pada pembukaan seminar memperingati Hari Anti Narkoba Internasional 2009 di Jakarta, Kamis (16/7).

Badan Narkotika Nasional (BNN) memperkirakan ada sekitar

1,5% penduduk Indonesia adalah penyalahguna Narkoba, sementara maraknya peredaran Napza di Indonesia merugikan keuangan negara sebesar Rp. 12 triliun setiap tahunnya.

Data yang diperoleh dari BNN menyebutkan, setiap tahunnya 15.000 orang meninggal akibat penyalahgunaan Napza, dan dari jumlah tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa 40 orang perhari harus melayang akibat Napza.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan menyebutkan, bahwa 3% dari total pecandu di Indonesia adalah perempuan. Jika merujuk pada hasil penelitian BNN yang menyebutkan 1,5% dari total penduduk Indonesia adalah Penyalahguna Narkoba, berarti ada sekitar 120.000 perempuan di Indonesia yang menjadi penyalahguna Narkoba.

�Bayangkan apabila semua perempuan tersebut adalah ibu-ibu yang memiliki rata-rata dua orang anak, maka akan terdapat 240.000 anak yang terlantar karena ibunya tidak berdaya dan terjerat oleh Narkoba,� ungkapnya.

Atau kalaupun semua perempuan tersebut belum berkeluarga, maka malapetaka sudah menunggu mereka dan anak-anak mereka kelak. Apalagi bila perempuan tersebut adalah pengguna Narkoba jarum suntik, maka HIV/AIDS, Hepatitis, dan berbagai penyakit berbahaya sudah membayangi dan cenderung menular kepada anak-anak mereka.

Masalah narkoba memang sangat komplek, keterlibatan anak-anak (usia sekolah) dalam penyalahgunaan Napza sudah tidak dapat dipungkiri, sindikat narkoba mengincar anak-anak karena waktu pemakaiannya lama dan menjadi pangsa pasar yang menggiurkan.

Fakta menujukkan saat ini banyak anak-anak yang terjerembab dalam lembah narkoba. Keterlibatan anak-anak tidak hanya sebagai pemakai, banyak di antaranya membantu Bandar-bandar narkoba untuk mengedarkan narkoba.

Sementara untuk memulihkan penyelahgunaan Napza merupakan persoalan yang sulit dan membutuhkan kesungguhan. Sejalan dengan hal itu stigma di masyarakat juga masih sangat tinggi.

Stigma tersebut, selain berdampak negatif secara psikologis pada mereka juga menimbulkan terhambatnya pengalokasian sumber-sumber masyarakat yang dibutuhkan dalam penanganan penyalahgunaan Napza.

Oleh karena itu, Depsos telah melakukan berbagai upaya pencegahan, rehabilitasi sosial, pengembangan dan pembinaan lanjut dengan menggunakan dan mengembangkan berbagai pendekatan, metode, media, tradisonal maupun modern yang sasarannya adalah mereka yang bermasalah serta potensi dan sumber untuk dikembangkan bagi penanganan penyalahgunaan Napza.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: